Pergolakan di Mesir

 

Awal Mula Pergolakan di Mesir

Awal mulanya pergolakan di mesir terjadi karena tuntutan sebagian besar rakyat mesir yang anti terhadap hosni Mubarak agar lengser dari kursi kepemimpinannya sebagai presiden. Dan sebagian masyarakat menginginkan sesuatu perubahan untuk menjadi negara yang demokrasi. Sebagian besar rakyat mesir turun ke jalan dan mengyel-yel kan agar hosni mubarak segera turun dari kepemimpinannya sebagai presiden. Di karenakan masyarakat sudah jenuh dengan kepemimpinannya selama 30 tahun yang tidak pro terhadap rakyatnya dan sangat pro terhadap musuh islam Israel dan amerika, padahal sebagian besar penduduk mesir adalah beragama muslim.

Pergolakan di Aljazair dapat berdampak pada ekonomi dunia karena negara tersebut merupakan pengekspor utama minyak bumi dan gas. Namun, analis mengatakan bahwa revolusi seperti yang terjadi di Mesir tampaknya tidak akan terjadi karena pemerintah dapat menggunakan kekayaan energinya untuk menenteramkan berbagai keluhan masyarakat.     Sekitar 150 demonstran melangsungkan protes pada Sabtu lalu di Lapangan 1 Mei. Namun, warga lain yang berupaya untuk bergabung dengan mereka dihalangi oleh kehadiran polisi dalam jumlah besar. Kekuatan terbesar oposisi Aljazair tidak ikut serta dalam gerakan protes tersebut.

 

Proses Pergolakan di Mesir

Hari demi hari warga mesir semakin banyak yang turun ke jalan, kekerasan ada di mana-mana, dan bentrok terhadap yang pro terhadap hosni mubarak dan yang tidak. Sistem perekonomian lumpuh kian hari, hancurnya politik dan semua lini aspek yang ada di mesir. Sejumlah besar polisi diturunkan untuk mencegah demonstrasi. Puluhan mobil van polisi dan kendaraan lapis baja militer ditempatkan di sekeliling ibu kota beberapa jam sebelum demonstrasi yang direncanakan berlangsung.

Demonstran terbagi menjadi dua kelompok di lapangan blok perumahan tempat mereka dikelilingi sekitar 400 polisi yang memakai helm dan pelindung tubuh. Koalisi kelompok hak asasi manusia, beberapa serikat pekerja, dan sedikit partai oposisi mendorong adanya demonstrasi setiap minggu di ibu kota. Pemerintah menolak untuk mengizinkan demonstrasi tersebut karena mengkhawatirkan ketertiban umum.

Polisi membubarkan massa pengunjuk rasa di Kairo, Mesir, Rabu (26/1) dini hari. Massa mendesak Presiden Hosni Mubarak, yang sudah 30 tahun berkuasa, mundur karena maraknya kasus korupsi, kemiskinan, dan pengangguran. Aksi serupa hari Selasa menyebabkan dua warga tewas di Suez dan satu polisi tewas di Kairo.

Tiga orang tewas itu, menurut AFP, adalah seorang polisi, yakni Ahmed Aziz, dan dua warga sipil, Ahmed Soliman Gaber dan Mustafa Ragap. Polisi tewas akibat terkena lemparan batu dalam aksi massa di Kairo. Dua warga sipil tewas akibat terkena tembakan peluru karet dalam aksi di Suez. Televisi Al-Jazeera menambahkan, ada puluhan orang terluka, termasuk 18 polisi. Ribuan orang turun ke jalan pada hari Selasa di Kairo. Setelah berkumpul dan berorasi di Tahrir Square, massa menyebar ke jalan-jalan kota. Unjuk rasa serupa juga terjadi di kota Ismailia dan Suez di timur Kairo, juga di Delta Nil seperti Mansoura dan Tanta, serta di Sinai utara, Alexandria.

Dalam unjuk rasa di Kairo ada 20.000-30.000 warga terlibat. Aksi ini yang terbesar dan pertama dalam era Hosni Mubarak. Massa berteriak, ”Turun, Hosni Mubarak turun.” Massa melempari polisi dengan batu. Sebagian lain naik ke kendaraan lapis baja dan menarik keluar polisi pengemudi. Polisi menghalau dengan tongkat, tembakan gas air mata, dan meriam air. Beberapa demonstran wajahnya berlumuran darah segar. Salah seorang di antaranya jatuh pingsan. Polisi menyeret sejumlah demonstran, memukul salah satu wartawan, lalu menghancurkan kacamatanya dan menyita kameranya.

Polisi menghalau massa yang telah tersebar secara sporadis itu dengan melepaskan tembakan meriam air dan gas air mata. Massa terdesak ke titik kumpul di Tahrir Square. Di sini massa berkemah untuk melanjutkan aksinya pada Rabu pagi. Kaum oposisi juga menyerukan agar harus dilakukan aksi lanjutan yang lebih besar untuk menurunkan Mubarak.

 

Pengunduran Diri Mobarok

Setelah aksi demonstrasi rakyat selama 18 hari yang menewaskan lebih dari 300 orang dan melukai ribuan orang lainnya, Presiden Mesir Hosni Mubarak akhirnya mengundurkan diri, Jumat (11/2) . Pemerintahan Mesir dilimpahkan kepada pihak militer.

Pengunduran diri Mubarak disampaikan Wakil Presiden Omar Suleiman melalui pernyataan yang disiarkan langsung televisi nasional Mesir. Menurut Suleiman, pemerintahan untuk sementara akan dipegang oleh Dewan Agung Militer Mesir.

”Dalam masa-masa sulit yang sedang dihadapi negara ini, Presiden Hosni Mubarak telah memutuskan untuk meninggalkan posisi kepresidenan. Ia telah menugaskan Dewan Agung Militer untuk mengarahkan berbagai urusan negara,” tutur Suleiman dalam pernyataan singkat di Kairo setelah Mubarak dan keluarga berangkat ke Sharm al-Sheikh.

Pengumuman mundurnya Mubarak langsung disambut gegap gempita oleh ratusan ribu demonstran di kota-kota utama Mesir. ”Rakyat telah menumbangkan rezim, rakyat telah menumbangkan rezim!” teriak massa berulang-ulang di Alun-alun Tahrir (Kebebasan), pusat Revolusi Nil sejak 25 Januari.

Bunyi terompet bergema di seantero Kairo, pemrotes melambai-lambaikan bendera-bendera Mesir pertanda sukacita luar biasa.

 

 

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: